Bahaya Radikalisme di Kalangan Pelajar, SMAN 12 Semarang
KBRN, Semarang: Pentingnya pemahaman isu radikalisme sejak dini mendorong diadakannya acara nonton bareng (nobar) film dokumenter “Road to Resilience” yang diikuti oleh para siswa SMAN 12 Semarang. Kegiatan ini diinisiasi oleh Yayasan Anantaka, bekerja sama dengan Kreasi Prasasti Perdamaian dan Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) Kota Semarang, Rabu (12/6/2025).
Film “Road to Resilience” mengangkat kisah nyata Febri Ramdani dan ibunya, eks simpatisan ISIS yang pernah tinggal di Suriah. Mereka awalnya tergoda janji kehidupan Islami yang lebih baik, namun akhirnya sadar dan pulang ke Indonesia untuk membangun hidup baru.
Selain menonton film, para siswa juga berdiskusi dengan narasumber seperti mantan anggota Jamaah Islamiyah, Sugeng Riyadi, perwakilan Kemenag Kota Semarang, dan tim dari Densus 88. Salah satu momen paling menggugah dalam diskusi adalah ketika Sugeng Riyadi berbagi pengalaman masa lalunya.
Ia mengingatkan para siswa untuk tidak mudah percaya janji manis yang dibungkus dalih agama. Ia mengaku mulai terpapar radikalisme sejak masa Aliyah di Solo, lewat kelompok Darul Islam.
“Saya sempat ditawari apakah akan melanjutkan sekolah ke Timur Tengah atau ikut akademi militer di Afghanistan. Saya tolak dua-duanya karena ingin melanjutkan kuliah di Jawa Tengah, kalau enggak Semarang, Solo, atau Yogyakarta,” katanya.
Direktur Yayasan Anantaka, Ika Camelia mengatakan, isu radikalisme ini masih jarang disentuh. ”Padahal dalam Permendikbud No. 46 Tahun 2023, radikalisme termasuk bentuk kekerasan yang harus dicegah di satuan pendidikan,” katanya.
Menurutnya, sebagian besar sekolah baru terfokus pada pencegahan kekerasan fisik atau perundungan, padahal penyusupan ideologi ekstrem juga perlu diwaspadai. “Anak-anak perlu dikenalkan pada isu ini supaya mereka bisa menjadi pelopor dan pelapor,” ucapnya.
Sementara, Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Pengarusutamaan Gender(PPUG) Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Semarang, Sih Wahyu Nurhastanti menekankan pentingnya peranan keluarga. Anak-anak harus dijaga dari paparan buruk, termasuk paham radikal.
Ia menyebut media sosial sebagai salah satu tempat paling rawan bagi remaja terpapar paham ekstrem. “Anak-anak gampang curhat di medsos, ini berbahaya karena mudah terpengaruh dan terpapar hal negatif, termasuk radikalisme,” katanya.
Masyarakat Kota Semarang bisa memanfaatkan layanan Pusat Pembelajaran Keluarga(Puspaga) yang menyediakan konsultasi gratis dengan lima psikolog profesional. “Puspaga ini bisa jadi tempat aman buat anak-anak dan orang tua untuk ngobrol dan cari solusi,” katanya.